Sunday, April 21, 2013

My House is Hospital

          Namaku M Riyadh Rizqullah sejak kecil aku didiagnosis dengan kondisi jantung yang memerlukan   perawatan dari kardiolog. Hal itu sama sekali aku gak ketahui sampai saat aku kelas 4 SD, aku mulai merasa aneh dengan dada aku yang selalu nyeri sakit dan aku selalu minum obat yang sangat beragam. Orang tua ku selalu menutupi hal ini hingga aku mengetahuinya sendiri dari temanku yang Orang tuanya seorang dokter spesialis penyakit dalam.
Aku coba untuk tetap mengikuti kata orang tuaku untuk tetap meminum obat itu. Suatu hari aku memutuskan untuk berhenti karena aku sadar bahwa obat itu membuat aku di jauhi teman-temanku mereka, mereka bilang kalau aku adalah anak yang penyakitan dan patut mereka jauhi. Setiap mama memberi aku obat aku selalu buang dan menolaknya yang aku pikirkan saat itu adalah aku pengen hidup normal layaknya anak lain yang mempunyai banyak teman aku ingin merasakan apa namanya persahabatan sejati yang selalu di ceritakan guruku. Walaupun begitu mama selalu mencari cara agar aku tetap bisa minum obat agar aku bisa sembuh, mama bilang ingin mengajaku ke dufan ternyata mama membawaku ke sebuah Rumah Sakit di Jakarta. Aku berusaha melawan untuk di tangkap oleh para suster, tapi aku tak sekuat itu aku berhasil di tangkap juga dan aku di ikat dengan tali aku merasa seperti binatang saat itu aku tak tau harus mengatakan apa kepada mama. Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi padaku. Saat itu aku hanya melihat air mata mama saat menatap aku, aku tidak tau mau sedih atau marah terhadap mama.

          Saat aku pulang dari rumah sakit aku mendengar cerita dari seorang temanku jika kita mengumpulkan beras sebutir-sebutir hingga semangkuk dari orang yang anggota keluarganya tidak ada yang meninggal. Aku pun berpikir untuk mengumpulkan butiran butiran beras hingga semangkuk, aku mulai dari mendatangi tetanggaku meminta sebutir beras tapi ternyata tetanggaku anggota keluarganya sudah ada yang meninggal yaitu ayah nya. Aku terus mencari hingga aku mulai lelah dan aku baru sadar bahwa ini mustahil semua orang pasti anggota keluarganya sudah ada yang meninggal mau itu kakek, kakek buyut pasti sudah meninggal. Harapan untuk sembuh dari penyakit ini pun aku kubur dalam dalam 

          Kenaikan kelas pun tiba dan nilai olahraga aku (0) di rapot karena aku sama sekali tidak pernah mengikuti olah raga dan hanya bisa melihat dari kejauhan, aku ingin sekali bermain layaknya anak normal seumuran aku. Aku sadar bahwa penyakit aku ini kian lama menyiksa aku, aku memutuskan untuk mengabaikan penyakit aku ini. Kelas 5 aku mulai main bola uberhem dll, tapi yang terjadi padaku adalah aku masuk Rumah Sakit kembali dan dinyatakan siaga karena aku memaksa tubuhku untuk bekerja dari biasanya. Aku mulai lelah dengan semua ini aku saat itu di marahi habis-habisan oleh papa aku karena aku memaksakan tetapi aku tidak pernah menghiraukan perkataan papa aku maupun mama aku, aku tetap ikut olah raga tapi kali ini guruku langsung yang melarang ku untuk mengikuti olah raga kata guruku aku hanya menyusahkan dia dan membani. Perkataan itu pun sangat menyakitkan buat ku aku ingin menjadi anak normal. Rumah Sakit sudah seperti teman bagiku keluar masuk itu sudah biasa bagiku. Aku merasa tidak mempunya teman saat itu waktu aku hanya di habiskan di Rumah Sakit selalu hingga aku memutuskan untuk kabur, tetapi upayaku pun di gagalkan oleh suster yang melihatku. Aku merasa lelah terus-terusan begini hingga saat itu aku berpikir untuk apa aku terlahir di dunia ini jika hanya seperti ini hanya tersiksa dan tersiksa aku lelah dengan semua keadaan ini sampai akhirnya aku pun marah kepada Tuhan. Aku menghabiskan 8 bulan hanya di Rumah Sakit, Rumah Sakit sudah seperti Rumahku sendiri aku menghabiskan banyak waktuku di sana. Hingga akhirnya aku di nyatakan tidak lulus dari kelas 5 SD tapi mama mencoba untuk membujuk guruku hingga guruku menaikan aku dengan bersyarat

         Akupun menjadi anak baik-baik yang hanya Rumah ---> Sekolah --->Rumah Sakit ---> Rumah dst. Suatu hari sekolah ku mengadakan studytour ke Jakarta ---> Bogor, aku sangat ingin pergi bersama mereka bersama teman teman aku itu pasti rasanya berbeda dengan pergi bersama mama papa, tapi apa daya aku orang tuaku tidak memboleh kan aku untuk pergi karena kondisi jantung aku yang tidak kunjung ada perubahan. Aku hanya bisa meratapi jendela sekolah dan menyaksikan 8 bus parawisata membawa pergi semua temanku yang tersisa hanya aku di kelas itu. Aku hanyalah aku yang lemah dan tak berdaya di sini

         



0 comments:

Post a Comment